Menundukkan Pandangan
Memandang sesuatu yang tidak halal untuk dipandang bisa mengubah pandangan menjadi panah syetan yang beracun. Siapa yang menundukkan pandangan, Allah akan menggantinya dengan manisnya iman dalam dada (Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, al-Jawab al-Kafi,179).
Maka, gunakanlah mata untuk membaca al-Quran, menangis karena takut kepada Allah, dan memalingkan hati dari pikiran, godaan, dan gangguan tersebut.
***************
Istirahat bagi Orang Mukmin
Istirahat bagi orang Mukmin merupakan kelalaian. Menganggur bisa membunuhnya.. Orang yang paling
banyak berkhayal adalah para penganggur yang tidak mempunyai aktivitas. Maka, bergeraklah, beraktivitaslah, membaca, bertasbih, menulis, ziarahlah dan manfaatkan waktu anda. Jangan jadikan sedetik waktumu untuk menganggur. Sehari anda menganggur pasti anda melamun dan berkhayal, dan jadilah lahan permainan syaitan..
(Aidh al-Qarni, La Tahzan)
*****************
Perusak Agama
Abdullah al-Mubarak rahimahullah bertutur: Wa afsada ad-dina Illa al-muluku wa ahbar as-su’ wa ruhbanuha (apakah ada yg merusak agama selain raja/penguasa, ulama’ su’ dan rahib-rahibnya?).
Syaikh ‘Ali al-Ghazi dalam Syarah Aqidah at-Thahawi berkata: Penguasa durjana menentang syariah dengan politik yang durjana. Mereka mengalahkan syariah. Ahbar su’ adalah ulama’ yang meninggalkan syariah dengan mengikuti pandangan dan analogi mereka yang rusak. Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Rahib adalah orang bodoh yang menjadi sufi dengan mengikuti perasaan dan imajinasi mereka. (Ibn al-Qayyim, Ighatsah al-Lahfan, Juz I, hal. 346)
***************
Penyakit Hati
Ibn Al Qayyim al Jauziyyah al-Jauhi berkata: Ada 2 penyakit hati:
1) Sakitnya tidak dirasakan seketika, seperti bodoh, ragu, syubhat, syahwat dan malas… tidak terasa sakitnya ketika mendera, tapi setelah sekian lama, baru terasa dan menyesal.
2) Sakitnya dirasakan seketika, seperti sedih dan benci
Wajar jika Nabi berdoa: Allahumma inni a’udzubika min al-bukhli, wa al-hunzi, wa al-kasli, wa a’udzubika min ghalabat ad-dain wa qahri ar-rijal
(Iughatsah al-Lahfan min Mashayid as-syaithan, juz I, hal.18)